Langit pagi di Pusiban Agung Way Kanan terasa berbeda, Rabu (6/5/2026). Di antara barisan koper dan pakaian ihram yang telah rapi, terselip getaran haru yang tak bisa disembunyikan. Sebanyak 224 Calon Jamaah Haji (CJH) bersama 1 orang pendamping resmi dilepas menuju Tanah Suci untuk musim haji 1447 H/2026. Suasana berlangsung khidmat, dihadiri Bupati Way Kanan, Forkopimda, serta ratusan keluarga yang setia mengantar dengan doa dan air mata.
Di tengah keramaian itu, ada rasa yang sulit dijelaskan, campuran bangga, cemas, dan rindu yang sudah mulai terasa bahkan sebelum perpisahan benar-benar terjadi. Satu per satu jamaah melangkah, sebagian dengan senyum yang ditahan, sebagian lagi tak kuasa membendung tangis.
Kepala Kemenag Way Kanan, Ali Sholihin, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih atas dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Way Kanan. Ia menegaskan bahwa perhatian pemerintah begitu terasa, mulai dari proses pelepasan, penyediaan transportasi menuju asrama haji, hingga kepulangan jamaah nantinya.
Dari ratusan wajah penuh harap itu, terselip kisah yang menyentuh hati. Khaelani RBT, jamaah tertua berusia 96 tahun, tampak tegar meski langkahnya tak lagi sekuat dulu. Sementara di sisi lain, Panji, remaja 17 tahun asal Buay Bahuga, berangkat menggantikan orang tuanya, sebuah amanah besar yang dipikul di usia yang begitu muda.
Rombongan dijadwalkan bertolak ke Jeddah pada 7 Mei 2026 dan akan kembali ke Indonesia pada 16 Juni 2026. Rentang waktu itu menjadi perjalanan panjang, bukan hanya secara fisik, tetapi juga batin.
Dalam sambutannya, Bupati Way Kanan, Ayu Asalasiyah, mengingatkan bahwa ibadah haji bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan perjalanan spiritual yang membutuhkan kesiapan fisik dan mental. Ia berpesan agar seluruh jamaah senantiasa menjaga kesehatan, memperkuat solidaritas antarjamaah, serta fokus dalam meningkatkan kualitas ibadah.
Dengan penuh khidmat, ucapan “Bismillah” pun menjadi penanda resmi dilepasnya para tamu Allah itu. Namun, justru di momen itulah suasana berubah semakin emosional. Tangis keluarga pecah, pelukan terakhir terasa begitu berat untuk dilepaskan. Ada doa yang dipanjatkan lirih, ada harapan yang digantungkan tinggi, semoga semua kembali dalam keadaan selamat.
Pemerintah daerah pun menaruh harapan besar, agar seluruh jamaah tidak hanya kembali dengan selamat, tetapi juga membawa pulang predikat haji mabrur, sebuah kemuliaan yang menjadi dambaan setiap insan yang berangkat ke Tanah Suci.
Di balik langkah kaki yang menjauh, tersisa cerita tentang cinta, pengorbanan, dan keyakinan. Sebuah perjalanan yang dimulai dengan tangis, namun diiringi doa yang tak pernah putus. (*Red)
0 Komentar